Kamis, 01 Desember 2011
JAKARTA - Biasanya, proses perontokan bulu ayam dilakukan secara manual dengan mencabuti satu per satu bulu ayam potong.

Tapi, cara tradisional tersebut akan segera ditinggalkan berkat rekayasa empat sekawan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Ahmad Adid Setyawan, Roma Afri Yanto, Dwi Riswanto, dan Herdiarto Tri Widanto dari Fakultas Teknik (FT) UNY mengembangkan sebuah prototipe mesin perontok bulu ayam.

Roma menjelaskan, tingkat konsumsi daging ayam tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daging sapi dan unggas lainnya.

"Kehadiran mesin perontok bulu ayam ini kami harap dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi daging ayam potong. Sehingga, kebutuhan masyarakat akan daging ayam dapat terpenuhi dengan pelayanan yang lebih mudah dan cepat," ungkap Roma seperti disitat dari situs UNY, Kamis (1/12/2011). 

Di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Mesin, Asnawi, M.Pd., keempatnya pun membagi tugas. Desain mesin dikerjakan oleh Ahmad, urusan mesin ditangani Roma dan Dwi, sedangkan fabrikasi dipercayakan pada Herdiarto dan Tri Widodo.

Keempatnya kemudian melakukan analisis dan mencari cara memperbaiki mesin perontok bulu ayam yang sudah ada. Hasil survei tim ini menunjukkan, konstruksi dan komponen pada mesin perontok bulu ayam yang sudah ada di lapangan sangatlah sederhana.

Menurut Roma, salah satu kelemahan adalah posisi motor terkunci pada dudukan motor sehingga menyulitkan pengaturan kekencangan dan kelonggaran sabuk (belt).

"Kekurangan lainnya ada pada pemilihan bahan yang kurang tepat, serta dimensi mesin yang memakan banyak tempat sehingga kurang efisien," imbuhnya.  

Sesuai bidang kerja masing-masing, keempat mahasiswa ini pun membuat modifikasi untuk mengoptimalkan kinerja mesin perontok bulu ayam. Desain dibuat lebih simpel, serta menggunakan bahan stainless steel agar anti jamur.

Desain Ahmad menghasilkan mesin perontok bulu ayam dengan dimensi 570x570x1,210 m dengan berat ± 85 kg.   Mesin besutan mereka memiliki kecepatan putaran 250 rpm dan berkapasitas produksi ± delapan ekor per menit.

"Mesin ini digerakkan motor listrik AC ½ HP. Sistem transmisi mesin ini berupa komponen reduktor yang terdiri dari puli, V-belt, dan roda gigi payung," papar Ahmad.

Perhitungan harga pokok atas produk mesin perontok bulu ayam Ahmad dkk adalah Rp3,2 juta. 

Ahmad juga mengklaim, uji kinerja menunjukkan, proses perontokan dan kinerja semua komponen cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya getaran yang terjadi. "Mesin ini," kata Ahmad, "juga mampu merontokkan bulu-bulu ayam dalam waktu relatif singkat."(rfa)
 
Tulisan ini saya sadur dari
http://kampus.okezone.com/read/2011/11/30/373/536298/tak-perlu-cabut-satu-per-satu-lagi
Sebuah kreativitas yang patut diapresiasi...
Berikutnya adalah pertanyaan kepada seluruh mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa Universitas Diponegoro: Kapan kita nyusul? Kalau kita melihat potensi di Undip, Undip sangat potensial, ada Fakultas Peternakan, ada pula jurusan Teknik Mesin...
Semangat! Hidup Mahasiswa! 

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

About Me

Foto Saya
fie sabilillah
Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.
Lihat profil lengkapku