Selasa, 29 November 2011
“Suka duka, tangis tawa, kadang terbersit lara dalam canda, di hari yang fitri ini, taqobbalallahu minna waminkum, shiyaamana wa shiyamakum, minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.” -fulan&family-

“Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Minal 'Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.” -fulanah&keluarga-

“Terselip khilaf dalam candaku, tergores luka dalam tawaku,terbelit pilu dalam tingkahku, tersinggung rasa dalam bicaraku. Hari kemenangan telah tiba. Semoga diampuni dari segala salah dan dosa. Mari bersama sucikan diri dan hati di hari yang fitri. Selamat hari raya idul fitri, minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.” -Fulan-

“Nuwun aguning samudro pangaksami bilih wonten lepat ingkang agung soho alit, muga iki dina sedaya lepat dipunlebur gusti ingkang welas asih. suwun....”
“assalammu'alaykum, langsung wae ya. nyuwun pangapurane engkang sedoyo, kalepatan kulo, taqobbalallahu minna wamingkum, taqobbal yaa kariim, :-)... maaf lahir batin yaa...”

“apa kabar hati? masihkah ia embun, menunduk tawadhu' di pucuk-pucuk daun? apa kabar ikhlas? masihkah ia karang, berdiri tegar menghadapi kerasnya ujian? apa kabar iman? masihkah ia bintang, terang benderang menerangi kehidupan? apa kabar saudaraku? taqobbalallahu minna waminkum,, mohon maaf lahir batin,,,” -Fulan 'n keluarga-

Kalau sudah momen-momen seperti ini selalu saja handphone berdering hampir setiap lima menit, inbox mendadak penuh, puluhan bahkan ratusan sms mengantree masuk. Peristiwa yang jarang agaknya. Sekitar H-1 lebaran mendadak sms-sms ucapan lebaran menyerbu setiap handphone yang aktif hari itu. Isinya? Ya ucapan selamat lebaran, permintaan maaf lahir batin, dan do'a "taqabbalallahu minna waminkum", sebagai pengganti kartu lebaran. Ya, lebih hemat dan efisien sepertinya. Beragam model sms berjibaku masuk menyerang tanpa kenal lelah dan pandang bulu, mulai dari tatanan kalimat yang simple sampai tatanan kalimat yang puitis, bahkan sampai ada juga-bahkan banyak yang alay kalau kata anak muda sekarang. Beberapa sampel saya cantumkan di atas.
Lebaran, idul fitri 1432 H. Tidak terasa setahun berlalu. Waktu seperti berpacu dengan dirinya sendiri, tak berhenti, tak kenal istirahat, tanpa ampun. Kalau tahun kemarin hanya sebagian bulan Ramadhan bisa dilalui di rumah dan sisanya di tanah rantauan, maka tahun ini merupakan anugrah yang jarang-jarang, yakni bulan Ramadhan bertepatan dengan liburan akhir tahun. Alhamdulillah, tahun ini satu bulan Ramadhan full bisa dilalui di rumah. Tidak seperti Ramadhan tahun kemarin yang penuh tugas dari senior (maklumlah, kemarin masih di-ospek kala itu), mestinya Ramadhan kali ini lebih sukses. Amin, Yaa Rabb.

Sekali lagi, waktu benar-benar tidak kenal kompromi dalam lajunya. Hari ini 1 Syawal. Ramadhan berakhir, Ramadhan usai. Tiga puluh hari puasa, hari ini berbuka. Hari ini hari nan fitri, hari yang suci(semoga setiap harinya suci). Hari ini hari Idul Fitri, hari raya kembali berbuka. Saya ragu untuk mengatakan hari kembali menjadi suci, putih tanpa dosa(sebab saya takut ini menjadi pembenaran untuk menggampangkan berbuat dosa lagi, kemudian berkata: "Toh tahun depan kembali fitri lagi). Bahkan saya takut, takut amal yang sebulan ini tidak cukup untuk membasuh semua noda. Saya merasa menjadi orang yang berlebihan agaknya jika saya mengatakan "hari ini kita kembali suci". Tapi saya tetap berharap kok. Ah apapunlah. Yang penting hari ini hari kemenangan bagi semua. Semua ber-hari raya, semua bahagia.
Hari raya, hari kemenangan. Semua ber-hari raya, semua menjadi pemenang. Semua bahagia. Sejak malam takbiran saya menjadi saksi hidup bahwa hari ini benar-benar hari kemenangan. Semua orang bersuka cita, air mukanya menggelora. Betapa adilnya Ar-Rabb, Dia menyiapkan hari ini untuk kita, untuk hamba-hambanya tanpa pandang bulu. Lihat saja di rumah-rumah, sanak-famili berkumpul, semua ceria semua bahagia. Lihat juga di pasar-pasar, barang dagangan(pakaian, makanan, dll) laku keras, dan semua bahagia. Lihat juga di jalan-jalan, pedagang kembang api untung banyak, kembang-kembang api saling saut mewarnai langit dengan kerlipnya, anak-anak muda tampil gagah di atas motor kebanggaannya dalam konvoi malam takbirannya, dan lagi-lagi semua bahagia. Betapa adilnya Dia, Kawan! Pun tak hanya itu, saudara-saudara kita yang sedang susah, sekejap menjadi sumringah ketika amil zakat menyambangi rumahnya mengantarkan bungkusan beras dan amplop. Dan lagi-lagi semua bahagia. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Laa ilaha illallah huwallahuakbar! Allahuakbar walillahilhamd!
Ber-hari raya, merayakan hari kemenangan. Menang? Kemenangan? Ya, semua menang. Itu pedapat saya, di luar pendapat orang-orang yang menganggap ironi tradisi baru(baca: tradisi konsumerisme) kaum kita yang kian menjadi-jadi tiap tahunnya, seperti berlomba-lomba mengucurkan bahkan menumpahkan uang dari dompetnya untuk membeli beragam petasan dan kembang api serta baju-baju baru untuk merayakan lebaran tahun ini. Tapi saya berpendapat lain. Semua menang! Semua menjadi pemenang tanpa butuh pretensi. Semua menang sesuai dengan persepsinya masing-masing. Di antara pedagang itu ada yang tokonya buka sampai malam, mereka masih khusyuk menunggui tokonya ketika imam tarawih khusyuk dalam lantunan bacaannya. Yang bermain petasan, kembang api, alangkah ceria dan asyiknya. Mereka benar-benar menang, mereka rela merogoh kocek yang tidak kecil untuk memeriahkan malam-malam takbiran, mereka menuai manfaat, dengan riuh kembang apinya malam pun terang dalam gelapnya, minimal manfaatnya memuaskan dirinya, bergaya, atau berperang gengsi "punya gua lebih manteb coy". Mereka menang! Fakir miskin? Toh mereka juga bahagia, kan sudah ada yang ngurus-amil zakat(meski nilai bungkusan dan amplopnya tidak sampai setengah harga kembang api yang bagus itu). Sementara itu di malam takbiran, pemuda-pemuda yang gagah pun tampil keluar dari kampung-kampungnya. Mereka pun menang, menang dengan kebanggaannya akan yang entahlah apa, mungkin dengan gaya rambut barunya yang super keren, atau mungkin dengan fashionnya yang super modis, atau malah mungkin menjadi pemenang dengan geber-geberan motor kesayangan yang dibelikan sang bapak. Fakir miskin juga mencicipi kemenangan itu kok, ya seperti yang dipikir orang-orang beruang tadi. Malam takbiran, ekspresi bahagia menyambut kedatangan amil zakat ke pintu rumahnya. Mereka tidak sendiri ternyata, masih ada yang peduli.

Hmmmm... Menang! Semua menang! Meriah! Semua menang dengan persepsinya masing-masing! Tampak rona-rona bahagia di wajah semua orang. Sekali lagi, Dia Maha Adil, semuanya bahagia, meski dengan persepsinya masing-masing. Akan tetapi perlahan pendapat saya tentang kemenangan mulai berubah ketika saya berkontemplasi tentang hakikat. Antara realitas dengan idealitas. Realitanya semua bahagia semua ceria. Tapi kemenangan ternyata memiliki hakikatnya. Kemenangan yang sesungguhnya. Dan ternyata kemenangan bukan hanya terlihat dari ekspresi-ekspresi bahagia di pinggir-pinggir jalan itu. Karena kemenangan punya hakikat, Kawan! Hakikat yang musti kita insafi bersama.

Saya berkontemplasi sedikit dalam, mencoba menyelidik ke dalam kata ‘kemenangan’ itu, lebih dalam, dan semakin dalam. Saya lihat semua ceria, jalanan gegap gempita dengan keceriaan, anak-anak muda berjibaku memenuhi jalan-jalan. Mereka bahagia. Riuhnya petasan dan kembang api membuat malam bercahaya dalam gelapnya. Di televisi di rumah, semua juga bahagia, banyak program khusus untuk merayakan hari nan suci ini(wallahu a’lam apakah justru menodai). Konser-konser, banyak. Semua bahagia. Sekali lagi, Dia Maha Adil dalam memberikan kebahagiaan dan keceriaan. Saya mencoba memejamkan mata, mencoba masuk lebih dalam, merembesi kata ‘kemenangan’. Saya tertegun ketika pertanyaan tentang hakikat muncul. Semua ceria, semua bahagia. Ini faktanya. Tapi rasanya hambar. Tidak berasa. Kehilangan makna. Kumudian saya mengarahkan pandangan ke masjid-masjid. Sepi. Tidak seperti malam-malam tarawih. Saya tertegun kembali.

Pelan-pelan muncul serangkaian pertanyaan. Menang? Kemenangan? Hari raya? Idul Fitri? Ini hari rayanya orang-orang yang beragama Islam, kan? Tapi kenapa sepertinya orang Islam menjauh dari agamanya sejak malam takbiran itu? Masjid-masjid sepi. Hanya ada segelintir saja yang mengurusi zakat fitrah. Jalanan penuh sesak. Muda-mudi saling berboncengan. Anak-anak muda antar kampung beradu keren, saling lempar petasan, tak jarang malah ribut. Dan suara tembakan peringatan terdengar… Pemandangan yang sangat menohok saya malam itu, di tempat yang remang-remang itu mereka berpasangan duduk berdua-dua. Miris… Inikah kemenangan? Ragu saya, sebab di malam-malam sebelumnya saya melihat para pedagang pakaian khusyuk sekali menjagai tokonya saat imam tarawih khusyuk dengan bacaannya. Dan lainnya…
Paradoks,,,
Kehilangan makna

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

About Me

Foto Saya
fie sabilillah
Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.
Lihat profil lengkapku