Senin, 28 November 2011

Malam 10 Dzulhijah 1432 H...
Semua kawan satu wismaku sudah terlelap dalam tidur dan alam imajinasinya masing-masing...
Kuhampiri tiap kamar, semua terlelap...
Maksud hati ingin bercerita tentang kegusaran dalam dada...
Mata ingin sekali terpejam, tapi sesuatu dalam dada terus meronta-ronta, hingga mata tak kuasa untuk terpejam...
Malam hari raya, malam yang sunyi, tanpa kebisingan, hanya sayup-sayup suara takbir dari kejauhan, dari Masjid Kampus, dari Al-Hidayah, dari Baitul Khair...
Lisan tanpa sadar terhanyut ikut dalam lantunan takbir-takbir yang jauh itu...
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Laa ilaha illallahu Allahuakbar! Allahuakbar Walillahilhamd!
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Tiada ilah yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah! Allah Maha Besar dan bagi-Nya lah segala puji...
Semesta bertasbih, membesarkan asma-Nya...
Malam ini alam terlalu sunyi...
Angin berhembus lembut, tak terdengan desirnya...
Angin sedang menyucikan dan membesarkan asma Rabb-nya...
"Krik-krik-krik-krik" suara jangkrik nan teratur...
Mungkin itu caranya bertasbih pada Rabb-nya...
Ya, semua makhluk malam ini membesarkan Rabb-nya dengan caranya masing-masing...

Merenung semakin dalam, dalam tatapan yang kosong, pandanganku terhenti pada sebuah tutup gelas merah jambu... Tutup gelas yang kupakai sejak masa TK-ku...
Terlintas bayangan-bayangan masa dahulu...
Semakin menajam dalam bayang malam-malam hari raya yang semarak...

Ini tahun keduaku berhari raya di tanah rantau...
Jauh dari rumah, jauh dari lakon-lakon dalam masa laluku...
Jauh, tapi tak akan kutinggalkan, tidak akan pernah!

Mencoba mengulik cerita, tentang malam hari raya... Ada kawan-kawan yang semarak dengan karakter khasnya masing-masing...
Semakin dalam, ada adik-adik yang sibuk dengan kembang api dan petasan-petasan kecil mereka, sekarang pastinya sudah besar-besar...

Semakin dalam,
tentang dua orang yang aku tak akan ada tanpa mereka...
Ya, ayah dan bunda...

Masih teringat dan akan selalu teringat seruan Bunda, "Pik, kalau takbiran keliling kamu hati-hati ya! Jangan manjat-manjat di truk!"
"Iya, Mak." Kataku.
Selalu teringat denga seruan Ayah, "Jangan ikut-ikut takbiran kelilinglah, Pik! Banyak orang konfoi, motornya kencang-kencang larinya, nanti kamu kenapa-kenapa."
Aku hanya jawab, "He..he.." lalu pergi.

Dua orang mulia ini akan terus begini sampai nanti. Cinta dan kasih sayangnya tak akan berubah. Cinta dan kasih sayang yang sepertinya berlebihan...
Ya, sepertinya. Bukan sesungguhnya. Sebab ya memang seharusnya begitu ketika mencintai sesuatu. Memiliki, menjadikan baik, dan menjaga.

Dulu, pagi-pagi aku sudah dipaksa bangun. Sholat subuh, mandi, berangkat. Berangkat bersama-sama. Dengan hanya aku yang mengenakan baju baru. Sedang mereka: "Yang tahun kemaren masih bagus gini, Pik. Kalau kamu kan buat dipakai pergi-pergi jauh, ke rumah teman, ke rumah guru."
Takbiran sebelum shalat Id dimulai... Terakhir, aku melihat ayah meneteskan air mata... Aku selalu di sebelahnya. Aku ingat dulu ketika kecil, setiap jalan berdua selalu aku dituntun dengan telunjuknya, sedang aku memegang erat telunjuknya.

Sepulangnya, datanglah Pak RT mengantar kupon daging kurban. Bersegera aku mengambil kartu itu untuk kemudian ditebuskan dengan daging kurban satu kantong plastik.
Kami selalu lebih senang dengan masakan daging kurban ini, padahal Bunda sudah masak Rendang juga H-1. Tapi mungkin inilah yang namanya barakah. Barakahnya daging kurban memberikan rasa manis tersendiri dibanding yang dibeli di pasar. Pernah dibuat sate, pernah dibuat dendeng, pernah dibuat sup. Selalu aku yang pertama mencoba dan menghabiskan.
Mereka selalu begitu, menjadikan aku yang pertama mencicipi. Kemudian mereka makan sesendok, aku makan sepiring. Berlebihan, tapi ya memang beginilah kasih sayang mereka.


Besok pagi entah bagaimana, mampukah mereka menelan masakan daging yang berbarakah itu tanpa terlebih dahulu aku cicipi...
Bukan dagingnya, tapi cinta dan kasih sayang mereka.
Ayah dan Bunda benar-benar sosok yang selalu ada dalam hatiku. Kasih sayang mereka sepanjang zaman, bukan sepanjang jalan.

Katakanlah begini untuk menggambarkan luar biasanya mereka bagiku. Aku tidak pernah sedikit pun terbetik dalam hati sebuah keirian untuk seperti teman-teman yang berlebih dalam kebutuhan materinya.
Sebab yang ayah dan bunda beri padaku bukan hanya hal seremeh itu, tapi mereka mengajarkan aku cinta dan kasih sayang, mereka mengajariku hakikat hidup dan kehidupan. Mereka mengajarkan dan memberikan makna serta warna dalam hidupku. Mereka yang mengajarkanku untuk selalu tersenyum meski sebenarnya menangis. Mereka yang mengajariku untuk selalu berdiri meski sebenarnya kaki sudah tak kuasa menopang. Mereka yang mengajariku untuk selalu berjalan meski sebenarnya kaki sudah lumpuh. Mereka yang mengajariku untuk berlari meski sebenarnya sendi sudah patah. Mereka yang mengajariku untuk menjadi tak terbatas di dalam keterbatasan.

Andai angin malam ini tidak sibuk dengan takbir dan tasbihnya, ingin sekali rasanya aku titipkan salam dan do'a dariku untuk Ibunda yang mengajarkanku kelembutan dan ketegaran, untuk ayah yang mengajarkanku bahwa lelah itu akan lelah dengan sendirinya mengejarku.
Aku keliru memilih angin untuk kutitipkan salam dan do'aku.
Harusnya kutitipkan itu semua pada Dzat yang angin bertakir dan bertasbih pada-Nya. Allahu Rabbul'alamin.


Teruntuk Ayah, Bunda...
Dalam keheningan malam dan beningnya embun yang mulai turun, Ananda menyapa Ayah dan Bunda, Salam dan do'a dari lisan ini senantiasa terlantunkan.
Apa kabar, Ayah dan Bunda?
Semoga senantiasa dalam naungan rahmat, ridha, petunjuk, dan pertolongan-Nya.
Ayah dan Bunda lagi apa? Lagi siap-siap untuk besok ya?
Ananda dari kejauhan selalu membayangkan.
Maaf Ananda tidak pulang ya, Ayah dan Bunda...
Ayah dan Bunda tak perlu khawatir dengan Ananda disini. Disini Ananda bersama orang-orang baik, seperti yang Ayah dan Bunda pesankan. Mereka orang-orang yang senantiasa menjaga shalat-shalat mereka, mereka orang-orang yang senantiasa menghiasi hari-hari dan kamar-kamarnya dengan tilawah.
Ananda disini baik-baik saja. Pasti Ayah dan Bunda kaget kalau tahu disini Ananda seperti apa. Bukan, bukan karena kekurangan atau kepayahan. Tapi disini Ananda bukan anak manja lagi. Allah selalu menolong Ananda kok.
Ayah dan Bunda, semoga Allah selalu menjaga Ayah dan Bunda... Semoga Allah selalu melimpahkan ampunan, rahmat, hidayah, dan pertolongan-Nya kepada Ayah dan Bunda. Semoga di akhirat nanti kita semua dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan para orang shalih.
Aamiin...
Anakmu di negeri juang...
:-)

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

About Me

Foto Saya
fie sabilillah
Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.
Lihat profil lengkapku