Selasa, 20 Desember 2011

Semangat Pagi, Sobat!!!
Apa kabar nih? sudah lama tak jumpa sudah lama tak dengar kabar...
Sebenarnya sudah lama terpikir oleh saya untuk mengumpulkan semua dokumentasi kehidupan kita bersama selama kita sekolah di SMA Negeri 1 Tumijajar.. Awalnya sih cukup sederhana, saya cuma mau buat "movie" kecil dari kumpulan foto dan videonya...
Terus lama-lama saya juga dapet ide untuk buat situsnya...
Nah, sampailah pada suatu hari, salah satu sahabat, ada yang menyampaikan ide untuk membuat "Album Kenangan"..
Eit, album poto atau album musik?
he..he..
Ya jelas album foto tho ya...
Hemm... ide ini boleh juga menurut saya, dan luar biasa...
Nah, sepakat ga nih, Kawan-kawan?
Kan lumayan nih buat mengenang masa-masa indah kita di SMA dan bernostalgila -eh nostalgia maksudnya-...
he...
Oke deh, langsung aja yak...
Untuk kawan-kawan semua yang saya rindukan, tolong kirimkan segala dokumentasi berupa
1. Foto (Kegiatan, kumpul-kumpul, belajar, dll-yang sopan)
2. Video (Idem)
3. Tulisan (Panjang atau pendek, tentang kesan pesan, kata motivasi dan kata mutiara)
ke email kita:
Kalau bisa, dikirim dalam .zip atau .rar ya.
Penting lho ini,,,
So, buruan yaw!
And sampaikan ke kawan-kawan yang lain ya... 
Senin, 12 Desember 2011

Mahasiswa. Bukan lagi sekadar siswa yang berseragam putih merah, putih biru, atau putih abu-abu. Telah dibumbui dengan penambahan ‘maha’ di awal. Ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang lebih pada diri mahasiswa. Tingkat pendidikannyakah? Tidak hanya itu. Mahasiswa berada pada tingkat usia yang dinilai telah mengalami pematangan pemikiran. Di usia-usia mahasiswa daya kritis mulai muncul. Mahasiswa juga dinilai sebagai kaum intelektual yang di atas selainnya. Usia mahasiswa adalah usia yang sangat produktif. Mereka memiliki ‘otak’ yang fresh, fisik yang kuat, dan idealisme. Akan produktif ketika mahasiswa itu sendiri  dapat mengarahkan dan mengelola segenap potensinya beriring waktu yang terus berjalan. Ketika mereka mampu berpacu dengan waktu dalam mengoptimalkan produktifitasnya, jadilah mahasiswa dengan tiga perannya: agen perubahan, penjaga nilai, dan cadangan pemimpin masa depan.
Jika kita melihat ke belakang, sebuah perubahan kerap bahkan selalu dimotori oleh kaum muda, katakanlah pada masa ini para mahasiswa. Sebuah tonggak sejarah baru Bangsa Indonesia pada tahun 1998 dimotori oleh para mahasiswa. Reformasi. Penataan Indonesia baru. Ya, yang memulainya adalah para pendahulu kita.
Sejatinya beginilah mahasiswa seharusnya. Mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial. Ada untuk kesejahteraan rakyat. Berorientasi untuk kemajuan dan kejayaan negeri. Akan tetapi kita melihat yang sering terjadi pada mahasiswa aktivis masa lalu adalah julukan ‘Nasakom’ yang disematkan pada mereka. Bukan ‘Nasakom’ Ideologi. Tapi Nasib Satu Koma. Beginilah adanya. Terlalu sibuk sampai-sampai akademik pun terkesampingkan. IP yang jeblok menjadi resiko yang dipilih. Ibarat peperangan, IP yang anjlok ibarat martir dalam peperangan.
Dan hari ini saatnya berubah dan menyempurnakan peran mahasiswa! Ada yang mengatakan, “Hari ini aksi dan demonstrasi bukan zamannya. Akan tetapi inovasi dan kreativitas yang harus kita kembangkan.” Bukan seperti ini yang saya maksud. Kita tidak berubah dengan mengambil satu aspek kemudian membuang aspek lainnya. Semacam aksi atau demonstrasi itu harus tetap ada sebagai sarana kontrol birokrasi. Setidaknya mahasiswa tidak kehilangan kepekaan dan kepeduliannya terhadap realitas sosial. Tetap, negeri ini masih butuh mahasiswa yang idealis, sebab mahasiswa dinilai masih bersih dari berbagai kepentingan. Perubahan pada diri mahasiswa hari ini adalah dengan menyempurnakan perannya yang sempat hilang. Katakanlah mahasiswa zaman ini harus bagus nilainya.
Akan tetapi yang terjadi hari ini adalah perubahan paradigma. Mahasiswa tidak menyempurnakan, melainkan mengambil satu aspek kemudian membuang aspek lain. Mereka mulai kehilangan kepekaan dan kepedulian sosialnya. Mereke lebih berorientasi pada besarnya IPK. Menjadi apatis. Ini tidak bisa dibenarkan.
Seharusnya mahasiswa itu idealnya ialah mereka yang mampu memanajemen dirinya dengan baik. Aktivis iya. Akademik iya. Kritis iya. Inovatif dan kreatif iya. Pun akhlaknya juga iya.
Kamis, 01 Desember 2011
JAKARTA - Biasanya, proses perontokan bulu ayam dilakukan secara manual dengan mencabuti satu per satu bulu ayam potong.

Tapi, cara tradisional tersebut akan segera ditinggalkan berkat rekayasa empat sekawan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Ahmad Adid Setyawan, Roma Afri Yanto, Dwi Riswanto, dan Herdiarto Tri Widanto dari Fakultas Teknik (FT) UNY mengembangkan sebuah prototipe mesin perontok bulu ayam.

Roma menjelaskan, tingkat konsumsi daging ayam tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daging sapi dan unggas lainnya.

"Kehadiran mesin perontok bulu ayam ini kami harap dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi daging ayam potong. Sehingga, kebutuhan masyarakat akan daging ayam dapat terpenuhi dengan pelayanan yang lebih mudah dan cepat," ungkap Roma seperti disitat dari situs UNY, Kamis (1/12/2011). 

Di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Mesin, Asnawi, M.Pd., keempatnya pun membagi tugas. Desain mesin dikerjakan oleh Ahmad, urusan mesin ditangani Roma dan Dwi, sedangkan fabrikasi dipercayakan pada Herdiarto dan Tri Widodo.

Keempatnya kemudian melakukan analisis dan mencari cara memperbaiki mesin perontok bulu ayam yang sudah ada. Hasil survei tim ini menunjukkan, konstruksi dan komponen pada mesin perontok bulu ayam yang sudah ada di lapangan sangatlah sederhana.

Menurut Roma, salah satu kelemahan adalah posisi motor terkunci pada dudukan motor sehingga menyulitkan pengaturan kekencangan dan kelonggaran sabuk (belt).

"Kekurangan lainnya ada pada pemilihan bahan yang kurang tepat, serta dimensi mesin yang memakan banyak tempat sehingga kurang efisien," imbuhnya.  

Sesuai bidang kerja masing-masing, keempat mahasiswa ini pun membuat modifikasi untuk mengoptimalkan kinerja mesin perontok bulu ayam. Desain dibuat lebih simpel, serta menggunakan bahan stainless steel agar anti jamur.

Desain Ahmad menghasilkan mesin perontok bulu ayam dengan dimensi 570x570x1,210 m dengan berat ± 85 kg.   Mesin besutan mereka memiliki kecepatan putaran 250 rpm dan berkapasitas produksi ± delapan ekor per menit.

"Mesin ini digerakkan motor listrik AC ½ HP. Sistem transmisi mesin ini berupa komponen reduktor yang terdiri dari puli, V-belt, dan roda gigi payung," papar Ahmad.

Perhitungan harga pokok atas produk mesin perontok bulu ayam Ahmad dkk adalah Rp3,2 juta. 

Ahmad juga mengklaim, uji kinerja menunjukkan, proses perontokan dan kinerja semua komponen cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya getaran yang terjadi. "Mesin ini," kata Ahmad, "juga mampu merontokkan bulu-bulu ayam dalam waktu relatif singkat."(rfa)
 
Tulisan ini saya sadur dari
http://kampus.okezone.com/read/2011/11/30/373/536298/tak-perlu-cabut-satu-per-satu-lagi
Sebuah kreativitas yang patut diapresiasi...
Berikutnya adalah pertanyaan kepada seluruh mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa Universitas Diponegoro: Kapan kita nyusul? Kalau kita melihat potensi di Undip, Undip sangat potensial, ada Fakultas Peternakan, ada pula jurusan Teknik Mesin...
Semangat! Hidup Mahasiswa! 
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

About Me

Foto Saya
fie sabilillah
Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.
Lihat profil lengkapku