Senin, 12 Desember 2011
Mahasiswa. Bukan lagi sekadar siswa yang
berseragam putih merah, putih biru, atau putih abu-abu. Telah dibumbui dengan
penambahan ‘maha’ di awal. Ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang lebih pada
diri mahasiswa. Tingkat pendidikannyakah? Tidak hanya itu. Mahasiswa berada
pada tingkat usia yang dinilai telah mengalami pematangan pemikiran. Di
usia-usia mahasiswa daya kritis mulai muncul. Mahasiswa juga dinilai sebagai
kaum intelektual yang di atas selainnya. Usia mahasiswa adalah usia yang sangat
produktif. Mereka memiliki ‘otak’ yang fresh,
fisik yang kuat, dan idealisme. Akan produktif ketika mahasiswa itu
sendiri dapat mengarahkan dan mengelola
segenap potensinya beriring waktu yang terus berjalan. Ketika mereka mampu
berpacu dengan waktu dalam mengoptimalkan produktifitasnya, jadilah mahasiswa
dengan tiga perannya: agen perubahan, penjaga nilai, dan cadangan pemimpin masa
depan.
Jika kita melihat ke belakang, sebuah
perubahan kerap bahkan selalu dimotori oleh kaum muda, katakanlah pada masa ini
para mahasiswa. Sebuah tonggak sejarah baru Bangsa Indonesia pada tahun 1998
dimotori oleh para mahasiswa. Reformasi. Penataan Indonesia baru. Ya, yang
memulainya adalah para pendahulu kita.
Sejatinya beginilah mahasiswa seharusnya.
Mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial. Ada untuk kesejahteraan rakyat.
Berorientasi untuk kemajuan dan kejayaan negeri. Akan tetapi kita melihat yang
sering terjadi pada mahasiswa aktivis masa lalu adalah julukan ‘Nasakom’ yang
disematkan pada mereka. Bukan ‘Nasakom’ Ideologi. Tapi Nasib Satu Koma.
Beginilah adanya. Terlalu sibuk sampai-sampai akademik pun terkesampingkan. IP
yang jeblok menjadi resiko yang dipilih. Ibarat peperangan, IP yang anjlok
ibarat martir dalam peperangan.
Dan hari ini saatnya berubah dan
menyempurnakan peran mahasiswa! Ada yang mengatakan, “Hari ini aksi dan
demonstrasi bukan zamannya. Akan tetapi inovasi dan kreativitas yang harus kita
kembangkan.” Bukan seperti ini yang saya maksud. Kita tidak berubah dengan
mengambil satu aspek kemudian membuang aspek lainnya. Semacam aksi atau
demonstrasi itu harus tetap ada sebagai sarana kontrol birokrasi. Setidaknya
mahasiswa tidak kehilangan kepekaan dan kepeduliannya terhadap realitas sosial.
Tetap, negeri ini masih butuh mahasiswa yang idealis, sebab mahasiswa dinilai masih
bersih dari berbagai kepentingan. Perubahan pada diri mahasiswa hari ini adalah
dengan menyempurnakan perannya yang sempat hilang. Katakanlah mahasiswa zaman
ini harus bagus nilainya.
Akan tetapi yang terjadi hari ini adalah
perubahan paradigma. Mahasiswa tidak menyempurnakan, melainkan mengambil satu
aspek kemudian membuang aspek lain. Mereka mulai kehilangan kepekaan dan
kepedulian sosialnya. Mereke lebih berorientasi pada besarnya IPK. Menjadi
apatis. Ini tidak bisa dibenarkan.
Seharusnya mahasiswa itu idealnya ialah mereka
yang mampu memanajemen dirinya dengan baik. Aktivis iya. Akademik iya. Kritis
iya. Inovatif dan kreatif iya. Pun akhlaknya juga iya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Pengikut
About Me
- fie sabilillah
- Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.

0 komentar:
Posting Komentar