Selasa, 29 November 2011
“Suka duka, tangis tawa, kadang terbersit lara dalam canda, di hari
yang fitri ini, taqobbalallahu minna waminkum, shiyaamana wa shiyamakum,
minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”
-fulan&family-
“Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Minal 'Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.” -fulanah&keluarga-
“Terselip khilaf dalam candaku, tergores luka dalam tawaku,terbelit pilu dalam tingkahku, tersinggung rasa dalam bicaraku. Hari kemenangan telah tiba. Semoga diampuni dari segala salah dan dosa. Mari bersama sucikan diri dan hati di hari yang fitri. Selamat hari raya idul fitri, minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.” -Fulan-
“Nuwun aguning samudro pangaksami bilih wonten lepat ingkang agung soho alit, muga iki dina sedaya lepat dipunlebur gusti ingkang welas asih. suwun....”
“assalammu'alaykum, langsung wae ya. nyuwun pangapurane engkang sedoyo, kalepatan kulo, taqobbalallahu minna wamingkum, taqobbal yaa kariim, :-)... maaf lahir batin yaa...”
“apa kabar hati? masihkah ia embun, menunduk tawadhu' di pucuk-pucuk daun? apa kabar ikhlas? masihkah ia karang, berdiri tegar menghadapi kerasnya ujian? apa kabar iman? masihkah ia bintang, terang benderang menerangi kehidupan? apa kabar saudaraku? taqobbalallahu minna waminkum,, mohon maaf lahir batin,,,” -Fulan 'n keluarga-
Kalau sudah momen-momen seperti ini selalu saja handphone berdering hampir setiap lima menit, inbox mendadak penuh, puluhan bahkan ratusan sms mengantree masuk. Peristiwa yang jarang agaknya. Sekitar H-1 lebaran mendadak sms-sms ucapan lebaran menyerbu setiap handphone yang aktif hari itu. Isinya? Ya ucapan selamat lebaran, permintaan maaf lahir batin, dan do'a "taqabbalallahu minna waminkum", sebagai pengganti kartu lebaran. Ya, lebih hemat dan efisien sepertinya. Beragam model sms berjibaku masuk menyerang tanpa kenal lelah dan pandang bulu, mulai dari tatanan kalimat yang simple sampai tatanan kalimat yang puitis, bahkan sampai ada juga-bahkan banyak yang alay kalau kata anak muda sekarang. Beberapa sampel saya cantumkan di atas.
Lebaran, idul fitri 1432 H. Tidak terasa setahun berlalu. Waktu seperti berpacu dengan dirinya sendiri, tak berhenti, tak kenal istirahat, tanpa ampun. Kalau tahun kemarin hanya sebagian bulan Ramadhan bisa dilalui di rumah dan sisanya di tanah rantauan, maka tahun ini merupakan anugrah yang jarang-jarang, yakni bulan Ramadhan bertepatan dengan liburan akhir tahun. Alhamdulillah, tahun ini satu bulan Ramadhan full bisa dilalui di rumah. Tidak seperti Ramadhan tahun kemarin yang penuh tugas dari senior (maklumlah, kemarin masih di-ospek kala itu), mestinya Ramadhan kali ini lebih sukses. Amin, Yaa Rabb.
Sekali lagi, waktu benar-benar tidak kenal kompromi dalam lajunya. Hari ini 1 Syawal. Ramadhan berakhir, Ramadhan usai. Tiga puluh hari puasa, hari ini berbuka. Hari ini hari nan fitri, hari yang suci(semoga setiap harinya suci). Hari ini hari Idul Fitri, hari raya kembali berbuka. Saya ragu untuk mengatakan hari kembali menjadi suci, putih tanpa dosa(sebab saya takut ini menjadi pembenaran untuk menggampangkan berbuat dosa lagi, kemudian berkata: "Toh tahun depan kembali fitri lagi). Bahkan saya takut, takut amal yang sebulan ini tidak cukup untuk membasuh semua noda. Saya merasa menjadi orang yang berlebihan agaknya jika saya mengatakan "hari ini kita kembali suci". Tapi saya tetap berharap kok. Ah apapunlah. Yang penting hari ini hari kemenangan bagi semua. Semua ber-hari raya, semua bahagia.
Hari raya, hari kemenangan. Semua ber-hari raya, semua menjadi pemenang. Semua bahagia. Sejak malam takbiran saya menjadi saksi hidup bahwa hari ini benar-benar hari kemenangan. Semua orang bersuka cita, air mukanya menggelora. Betapa adilnya Ar-Rabb, Dia menyiapkan hari ini untuk kita, untuk hamba-hambanya tanpa pandang bulu. Lihat saja di rumah-rumah, sanak-famili berkumpul, semua ceria semua bahagia. Lihat juga di pasar-pasar, barang dagangan(pakaian, makanan, dll) laku keras, dan semua bahagia. Lihat juga di jalan-jalan, pedagang kembang api untung banyak, kembang-kembang api saling saut mewarnai langit dengan kerlipnya, anak-anak muda tampil gagah di atas motor kebanggaannya dalam konvoi malam takbirannya, dan lagi-lagi semua bahagia. Betapa adilnya Dia, Kawan! Pun tak hanya itu, saudara-saudara kita yang sedang susah, sekejap menjadi sumringah ketika amil zakat menyambangi rumahnya mengantarkan bungkusan beras dan amplop. Dan lagi-lagi semua bahagia. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Laa ilaha illallah huwallahuakbar! Allahuakbar walillahilhamd!
Ber-hari raya, merayakan hari kemenangan. Menang? Kemenangan? Ya, semua menang. Itu pedapat saya, di luar pendapat orang-orang yang menganggap ironi tradisi baru(baca: tradisi konsumerisme) kaum kita yang kian menjadi-jadi tiap tahunnya, seperti berlomba-lomba mengucurkan bahkan menumpahkan uang dari dompetnya untuk membeli beragam petasan dan kembang api serta baju-baju baru untuk merayakan lebaran tahun ini. Tapi saya berpendapat lain. Semua menang! Semua menjadi pemenang tanpa butuh pretensi. Semua menang sesuai dengan persepsinya masing-masing. Di antara pedagang itu ada yang tokonya buka sampai malam, mereka masih khusyuk menunggui tokonya ketika imam tarawih khusyuk dalam lantunan bacaannya. Yang bermain petasan, kembang api, alangkah ceria dan asyiknya. Mereka benar-benar menang, mereka rela merogoh kocek yang tidak kecil untuk memeriahkan malam-malam takbiran, mereka menuai manfaat, dengan riuh kembang apinya malam pun terang dalam gelapnya, minimal manfaatnya memuaskan dirinya, bergaya, atau berperang gengsi "punya gua lebih manteb coy". Mereka menang! Fakir miskin? Toh mereka juga bahagia, kan sudah ada yang ngurus-amil zakat(meski nilai bungkusan dan amplopnya tidak sampai setengah harga kembang api yang bagus itu). Sementara itu di malam takbiran, pemuda-pemuda yang gagah pun tampil keluar dari kampung-kampungnya. Mereka pun menang, menang dengan kebanggaannya akan yang entahlah apa, mungkin dengan gaya rambut barunya yang super keren, atau mungkin dengan fashionnya yang super modis, atau malah mungkin menjadi pemenang dengan geber-geberan motor kesayangan yang dibelikan sang bapak. Fakir miskin juga mencicipi kemenangan itu kok, ya seperti yang dipikir orang-orang beruang tadi. Malam takbiran, ekspresi bahagia menyambut kedatangan amil zakat ke pintu rumahnya. Mereka tidak sendiri ternyata, masih ada yang peduli.
Hmmmm... Menang! Semua menang! Meriah! Semua menang dengan persepsinya masing-masing! Tampak rona-rona bahagia di wajah semua orang. Sekali lagi, Dia Maha Adil, semuanya bahagia, meski dengan persepsinya masing-masing. Akan tetapi perlahan pendapat saya tentang kemenangan mulai berubah ketika saya berkontemplasi tentang hakikat. Antara realitas dengan idealitas. Realitanya semua bahagia semua ceria. Tapi kemenangan ternyata memiliki hakikatnya. Kemenangan yang sesungguhnya. Dan ternyata kemenangan bukan hanya terlihat dari ekspresi-ekspresi bahagia di pinggir-pinggir jalan itu. Karena kemenangan punya hakikat, Kawan! Hakikat yang musti kita insafi bersama.
Saya berkontemplasi sedikit dalam, mencoba menyelidik ke dalam kata ‘kemenangan’ itu, lebih dalam, dan semakin dalam. Saya lihat semua ceria, jalanan gegap gempita dengan keceriaan, anak-anak muda berjibaku memenuhi jalan-jalan. Mereka bahagia. Riuhnya petasan dan kembang api membuat malam bercahaya dalam gelapnya. Di televisi di rumah, semua juga bahagia, banyak program khusus untuk merayakan hari nan suci ini(wallahu a’lam apakah justru menodai). Konser-konser, banyak. Semua bahagia. Sekali lagi, Dia Maha Adil dalam memberikan kebahagiaan dan keceriaan. Saya mencoba memejamkan mata, mencoba masuk lebih dalam, merembesi kata ‘kemenangan’. Saya tertegun ketika pertanyaan tentang hakikat muncul. Semua ceria, semua bahagia. Ini faktanya. Tapi rasanya hambar. Tidak berasa. Kehilangan makna. Kumudian saya mengarahkan pandangan ke masjid-masjid. Sepi. Tidak seperti malam-malam tarawih. Saya tertegun kembali.
Pelan-pelan muncul serangkaian pertanyaan. Menang? Kemenangan? Hari raya? Idul Fitri? Ini hari rayanya orang-orang yang beragama Islam, kan? Tapi kenapa sepertinya orang Islam menjauh dari agamanya sejak malam takbiran itu? Masjid-masjid sepi. Hanya ada segelintir saja yang mengurusi zakat fitrah. Jalanan penuh sesak. Muda-mudi saling berboncengan. Anak-anak muda antar kampung beradu keren, saling lempar petasan, tak jarang malah ribut. Dan suara tembakan peringatan terdengar… Pemandangan yang sangat menohok saya malam itu, di tempat yang remang-remang itu mereka berpasangan duduk berdua-dua. Miris… Inikah kemenangan? Ragu saya, sebab di malam-malam sebelumnya saya melihat para pedagang pakaian khusyuk sekali menjagai tokonya saat imam tarawih khusyuk dengan bacaannya. Dan lainnya…
Paradoks,,,
Kehilangan makna
“Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Minal 'Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.” -fulanah&keluarga-
“Terselip khilaf dalam candaku, tergores luka dalam tawaku,terbelit pilu dalam tingkahku, tersinggung rasa dalam bicaraku. Hari kemenangan telah tiba. Semoga diampuni dari segala salah dan dosa. Mari bersama sucikan diri dan hati di hari yang fitri. Selamat hari raya idul fitri, minal 'aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.” -Fulan-
“Nuwun aguning samudro pangaksami bilih wonten lepat ingkang agung soho alit, muga iki dina sedaya lepat dipunlebur gusti ingkang welas asih. suwun....”
“assalammu'alaykum, langsung wae ya. nyuwun pangapurane engkang sedoyo, kalepatan kulo, taqobbalallahu minna wamingkum, taqobbal yaa kariim, :-)... maaf lahir batin yaa...”
“apa kabar hati? masihkah ia embun, menunduk tawadhu' di pucuk-pucuk daun? apa kabar ikhlas? masihkah ia karang, berdiri tegar menghadapi kerasnya ujian? apa kabar iman? masihkah ia bintang, terang benderang menerangi kehidupan? apa kabar saudaraku? taqobbalallahu minna waminkum,, mohon maaf lahir batin,,,” -Fulan 'n keluarga-
Kalau sudah momen-momen seperti ini selalu saja handphone berdering hampir setiap lima menit, inbox mendadak penuh, puluhan bahkan ratusan sms mengantree masuk. Peristiwa yang jarang agaknya. Sekitar H-1 lebaran mendadak sms-sms ucapan lebaran menyerbu setiap handphone yang aktif hari itu. Isinya? Ya ucapan selamat lebaran, permintaan maaf lahir batin, dan do'a "taqabbalallahu minna waminkum", sebagai pengganti kartu lebaran. Ya, lebih hemat dan efisien sepertinya. Beragam model sms berjibaku masuk menyerang tanpa kenal lelah dan pandang bulu, mulai dari tatanan kalimat yang simple sampai tatanan kalimat yang puitis, bahkan sampai ada juga-bahkan banyak yang alay kalau kata anak muda sekarang. Beberapa sampel saya cantumkan di atas.
Lebaran, idul fitri 1432 H. Tidak terasa setahun berlalu. Waktu seperti berpacu dengan dirinya sendiri, tak berhenti, tak kenal istirahat, tanpa ampun. Kalau tahun kemarin hanya sebagian bulan Ramadhan bisa dilalui di rumah dan sisanya di tanah rantauan, maka tahun ini merupakan anugrah yang jarang-jarang, yakni bulan Ramadhan bertepatan dengan liburan akhir tahun. Alhamdulillah, tahun ini satu bulan Ramadhan full bisa dilalui di rumah. Tidak seperti Ramadhan tahun kemarin yang penuh tugas dari senior (maklumlah, kemarin masih di-ospek kala itu), mestinya Ramadhan kali ini lebih sukses. Amin, Yaa Rabb.
Sekali lagi, waktu benar-benar tidak kenal kompromi dalam lajunya. Hari ini 1 Syawal. Ramadhan berakhir, Ramadhan usai. Tiga puluh hari puasa, hari ini berbuka. Hari ini hari nan fitri, hari yang suci(semoga setiap harinya suci). Hari ini hari Idul Fitri, hari raya kembali berbuka. Saya ragu untuk mengatakan hari kembali menjadi suci, putih tanpa dosa(sebab saya takut ini menjadi pembenaran untuk menggampangkan berbuat dosa lagi, kemudian berkata: "Toh tahun depan kembali fitri lagi). Bahkan saya takut, takut amal yang sebulan ini tidak cukup untuk membasuh semua noda. Saya merasa menjadi orang yang berlebihan agaknya jika saya mengatakan "hari ini kita kembali suci". Tapi saya tetap berharap kok. Ah apapunlah. Yang penting hari ini hari kemenangan bagi semua. Semua ber-hari raya, semua bahagia.
Hari raya, hari kemenangan. Semua ber-hari raya, semua menjadi pemenang. Semua bahagia. Sejak malam takbiran saya menjadi saksi hidup bahwa hari ini benar-benar hari kemenangan. Semua orang bersuka cita, air mukanya menggelora. Betapa adilnya Ar-Rabb, Dia menyiapkan hari ini untuk kita, untuk hamba-hambanya tanpa pandang bulu. Lihat saja di rumah-rumah, sanak-famili berkumpul, semua ceria semua bahagia. Lihat juga di pasar-pasar, barang dagangan(pakaian, makanan, dll) laku keras, dan semua bahagia. Lihat juga di jalan-jalan, pedagang kembang api untung banyak, kembang-kembang api saling saut mewarnai langit dengan kerlipnya, anak-anak muda tampil gagah di atas motor kebanggaannya dalam konvoi malam takbirannya, dan lagi-lagi semua bahagia. Betapa adilnya Dia, Kawan! Pun tak hanya itu, saudara-saudara kita yang sedang susah, sekejap menjadi sumringah ketika amil zakat menyambangi rumahnya mengantarkan bungkusan beras dan amplop. Dan lagi-lagi semua bahagia. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Laa ilaha illallah huwallahuakbar! Allahuakbar walillahilhamd!
Ber-hari raya, merayakan hari kemenangan. Menang? Kemenangan? Ya, semua menang. Itu pedapat saya, di luar pendapat orang-orang yang menganggap ironi tradisi baru(baca: tradisi konsumerisme) kaum kita yang kian menjadi-jadi tiap tahunnya, seperti berlomba-lomba mengucurkan bahkan menumpahkan uang dari dompetnya untuk membeli beragam petasan dan kembang api serta baju-baju baru untuk merayakan lebaran tahun ini. Tapi saya berpendapat lain. Semua menang! Semua menjadi pemenang tanpa butuh pretensi. Semua menang sesuai dengan persepsinya masing-masing. Di antara pedagang itu ada yang tokonya buka sampai malam, mereka masih khusyuk menunggui tokonya ketika imam tarawih khusyuk dalam lantunan bacaannya. Yang bermain petasan, kembang api, alangkah ceria dan asyiknya. Mereka benar-benar menang, mereka rela merogoh kocek yang tidak kecil untuk memeriahkan malam-malam takbiran, mereka menuai manfaat, dengan riuh kembang apinya malam pun terang dalam gelapnya, minimal manfaatnya memuaskan dirinya, bergaya, atau berperang gengsi "punya gua lebih manteb coy". Mereka menang! Fakir miskin? Toh mereka juga bahagia, kan sudah ada yang ngurus-amil zakat(meski nilai bungkusan dan amplopnya tidak sampai setengah harga kembang api yang bagus itu). Sementara itu di malam takbiran, pemuda-pemuda yang gagah pun tampil keluar dari kampung-kampungnya. Mereka pun menang, menang dengan kebanggaannya akan yang entahlah apa, mungkin dengan gaya rambut barunya yang super keren, atau mungkin dengan fashionnya yang super modis, atau malah mungkin menjadi pemenang dengan geber-geberan motor kesayangan yang dibelikan sang bapak. Fakir miskin juga mencicipi kemenangan itu kok, ya seperti yang dipikir orang-orang beruang tadi. Malam takbiran, ekspresi bahagia menyambut kedatangan amil zakat ke pintu rumahnya. Mereka tidak sendiri ternyata, masih ada yang peduli.
Hmmmm... Menang! Semua menang! Meriah! Semua menang dengan persepsinya masing-masing! Tampak rona-rona bahagia di wajah semua orang. Sekali lagi, Dia Maha Adil, semuanya bahagia, meski dengan persepsinya masing-masing. Akan tetapi perlahan pendapat saya tentang kemenangan mulai berubah ketika saya berkontemplasi tentang hakikat. Antara realitas dengan idealitas. Realitanya semua bahagia semua ceria. Tapi kemenangan ternyata memiliki hakikatnya. Kemenangan yang sesungguhnya. Dan ternyata kemenangan bukan hanya terlihat dari ekspresi-ekspresi bahagia di pinggir-pinggir jalan itu. Karena kemenangan punya hakikat, Kawan! Hakikat yang musti kita insafi bersama.
Saya berkontemplasi sedikit dalam, mencoba menyelidik ke dalam kata ‘kemenangan’ itu, lebih dalam, dan semakin dalam. Saya lihat semua ceria, jalanan gegap gempita dengan keceriaan, anak-anak muda berjibaku memenuhi jalan-jalan. Mereka bahagia. Riuhnya petasan dan kembang api membuat malam bercahaya dalam gelapnya. Di televisi di rumah, semua juga bahagia, banyak program khusus untuk merayakan hari nan suci ini(wallahu a’lam apakah justru menodai). Konser-konser, banyak. Semua bahagia. Sekali lagi, Dia Maha Adil dalam memberikan kebahagiaan dan keceriaan. Saya mencoba memejamkan mata, mencoba masuk lebih dalam, merembesi kata ‘kemenangan’. Saya tertegun ketika pertanyaan tentang hakikat muncul. Semua ceria, semua bahagia. Ini faktanya. Tapi rasanya hambar. Tidak berasa. Kehilangan makna. Kumudian saya mengarahkan pandangan ke masjid-masjid. Sepi. Tidak seperti malam-malam tarawih. Saya tertegun kembali.
Pelan-pelan muncul serangkaian pertanyaan. Menang? Kemenangan? Hari raya? Idul Fitri? Ini hari rayanya orang-orang yang beragama Islam, kan? Tapi kenapa sepertinya orang Islam menjauh dari agamanya sejak malam takbiran itu? Masjid-masjid sepi. Hanya ada segelintir saja yang mengurusi zakat fitrah. Jalanan penuh sesak. Muda-mudi saling berboncengan. Anak-anak muda antar kampung beradu keren, saling lempar petasan, tak jarang malah ribut. Dan suara tembakan peringatan terdengar… Pemandangan yang sangat menohok saya malam itu, di tempat yang remang-remang itu mereka berpasangan duduk berdua-dua. Miris… Inikah kemenangan? Ragu saya, sebab di malam-malam sebelumnya saya melihat para pedagang pakaian khusyuk sekali menjagai tokonya saat imam tarawih khusyuk dengan bacaannya. Dan lainnya…
Paradoks,,,
Kehilangan makna
Senin, 28 November 2011
Malam 10 Dzulhijah 1432 H...
Semua kawan satu wismaku sudah terlelap dalam tidur dan alam imajinasinya masing-masing...
Kuhampiri tiap kamar, semua terlelap...
Maksud hati ingin bercerita tentang kegusaran dalam dada...
Mata ingin sekali terpejam, tapi sesuatu dalam dada terus meronta-ronta, hingga mata tak kuasa untuk terpejam...
Malam hari raya, malam yang sunyi, tanpa kebisingan, hanya sayup-sayup suara takbir dari kejauhan, dari Masjid Kampus, dari Al-Hidayah, dari Baitul Khair...
Lisan tanpa sadar terhanyut ikut dalam lantunan takbir-takbir yang jauh itu...
Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Laa ilaha illallahu Allahuakbar! Allahuakbar Walillahilhamd!
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Tiada ilah yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah! Allah Maha Besar dan bagi-Nya lah segala puji...
Semesta bertasbih, membesarkan asma-Nya...
Malam ini alam terlalu sunyi...
Angin berhembus lembut, tak terdengan desirnya...
Angin sedang menyucikan dan membesarkan asma Rabb-nya...
"Krik-krik-krik-krik" suara jangkrik nan teratur...
Mungkin itu caranya bertasbih pada Rabb-nya...
Ya, semua makhluk malam ini membesarkan Rabb-nya dengan caranya masing-masing...
Merenung semakin dalam, dalam tatapan yang kosong, pandanganku terhenti pada sebuah tutup gelas merah jambu... Tutup gelas yang kupakai sejak masa TK-ku...
Terlintas bayangan-bayangan masa dahulu...
Semakin menajam dalam bayang malam-malam hari raya yang semarak...
Ini tahun keduaku berhari raya di tanah rantau...
Jauh dari rumah, jauh dari lakon-lakon dalam masa laluku...
Jauh, tapi tak akan kutinggalkan, tidak akan pernah!
Mencoba mengulik cerita, tentang malam hari raya... Ada kawan-kawan yang semarak dengan karakter khasnya masing-masing...
Semakin dalam, ada adik-adik yang sibuk dengan kembang api dan petasan-petasan kecil mereka, sekarang pastinya sudah besar-besar...
Semakin dalam,
tentang dua orang yang aku tak akan ada tanpa mereka...
Ya, ayah dan bunda...
Masih teringat dan akan selalu teringat seruan Bunda, "Pik, kalau takbiran keliling kamu hati-hati ya! Jangan manjat-manjat di truk!"
"Iya, Mak." Kataku.
Selalu teringat denga seruan Ayah, "Jangan ikut-ikut takbiran kelilinglah, Pik! Banyak orang konfoi, motornya kencang-kencang larinya, nanti kamu kenapa-kenapa."
Aku hanya jawab, "He..he.." lalu pergi.
Dua orang mulia ini akan terus begini sampai nanti. Cinta dan kasih sayangnya tak akan berubah. Cinta dan kasih sayang yang sepertinya berlebihan...
Ya, sepertinya. Bukan sesungguhnya. Sebab ya memang seharusnya begitu ketika mencintai sesuatu. Memiliki, menjadikan baik, dan menjaga.
Dulu, pagi-pagi aku sudah dipaksa bangun. Sholat subuh, mandi, berangkat. Berangkat bersama-sama. Dengan hanya aku yang mengenakan baju baru. Sedang mereka: "Yang tahun kemaren masih bagus gini, Pik. Kalau kamu kan buat dipakai pergi-pergi jauh, ke rumah teman, ke rumah guru."
Takbiran sebelum shalat Id dimulai... Terakhir, aku melihat ayah meneteskan air mata... Aku selalu di sebelahnya. Aku ingat dulu ketika kecil, setiap jalan berdua selalu aku dituntun dengan telunjuknya, sedang aku memegang erat telunjuknya.
Sepulangnya, datanglah Pak RT mengantar kupon daging kurban. Bersegera aku mengambil kartu itu untuk kemudian ditebuskan dengan daging kurban satu kantong plastik.
Kami selalu lebih senang dengan masakan daging kurban ini, padahal Bunda sudah masak Rendang juga H-1. Tapi mungkin inilah yang namanya barakah. Barakahnya daging kurban memberikan rasa manis tersendiri dibanding yang dibeli di pasar. Pernah dibuat sate, pernah dibuat dendeng, pernah dibuat sup. Selalu aku yang pertama mencoba dan menghabiskan.
Mereka selalu begitu, menjadikan aku yang pertama mencicipi. Kemudian mereka makan sesendok, aku makan sepiring. Berlebihan, tapi ya memang beginilah kasih sayang mereka.
Besok pagi entah bagaimana, mampukah mereka menelan masakan daging yang berbarakah itu tanpa terlebih dahulu aku cicipi...
Bukan dagingnya, tapi cinta dan kasih sayang mereka.
Ayah dan Bunda benar-benar sosok yang selalu ada dalam hatiku. Kasih sayang mereka sepanjang zaman, bukan sepanjang jalan.
Katakanlah begini untuk menggambarkan luar biasanya mereka bagiku. Aku tidak pernah sedikit pun terbetik dalam hati sebuah keirian untuk seperti teman-teman yang berlebih dalam kebutuhan materinya.
Sebab yang ayah dan bunda beri padaku bukan hanya hal seremeh itu, tapi mereka mengajarkan aku cinta dan kasih sayang, mereka mengajariku hakikat hidup dan kehidupan. Mereka mengajarkan dan memberikan makna serta warna dalam hidupku. Mereka yang mengajarkanku untuk selalu tersenyum meski sebenarnya menangis. Mereka yang mengajariku untuk selalu berdiri meski sebenarnya kaki sudah tak kuasa menopang. Mereka yang mengajariku untuk selalu berjalan meski sebenarnya kaki sudah lumpuh. Mereka yang mengajariku untuk berlari meski sebenarnya sendi sudah patah. Mereka yang mengajariku untuk menjadi tak terbatas di dalam keterbatasan.
Andai angin malam ini tidak sibuk dengan takbir dan tasbihnya, ingin sekali rasanya aku titipkan salam dan do'a dariku untuk Ibunda yang mengajarkanku kelembutan dan ketegaran, untuk ayah yang mengajarkanku bahwa lelah itu akan lelah dengan sendirinya mengejarku.
Aku keliru memilih angin untuk kutitipkan salam dan do'aku.
Harusnya kutitipkan itu semua pada Dzat yang angin bertakir dan bertasbih pada-Nya. Allahu Rabbul'alamin.
Teruntuk Ayah, Bunda...
Dalam keheningan malam dan beningnya embun yang mulai turun, Ananda menyapa Ayah dan Bunda, Salam dan do'a dari lisan ini senantiasa terlantunkan.
Apa kabar, Ayah dan Bunda?
Semoga senantiasa dalam naungan rahmat, ridha, petunjuk, dan pertolongan-Nya.
Ayah dan Bunda lagi apa? Lagi siap-siap untuk besok ya?
Ananda dari kejauhan selalu membayangkan.
Maaf Ananda tidak pulang ya, Ayah dan Bunda...
Ayah dan Bunda tak perlu khawatir dengan Ananda disini. Disini Ananda bersama orang-orang baik, seperti yang Ayah dan Bunda pesankan. Mereka orang-orang yang senantiasa menjaga shalat-shalat mereka, mereka orang-orang yang senantiasa menghiasi hari-hari dan kamar-kamarnya dengan tilawah.
Ananda disini baik-baik saja. Pasti Ayah dan Bunda kaget kalau tahu disini Ananda seperti apa. Bukan, bukan karena kekurangan atau kepayahan. Tapi disini Ananda bukan anak manja lagi. Allah selalu menolong Ananda kok.
Ayah dan Bunda, semoga Allah selalu menjaga Ayah dan Bunda... Semoga Allah selalu melimpahkan ampunan, rahmat, hidayah, dan pertolongan-Nya kepada Ayah dan Bunda. Semoga di akhirat nanti kita semua dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan para orang shalih.
Aamiin...
Anakmu di negeri juang...
:-)
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Pengikut
About Me
- fie sabilillah
- Bismillahirrahmanirrahim. Nama asli saya adalah Taufik Aulia Rahmat. Blog ini sengaja saya buat insyaallah dengan tujuan yang baik dan untuk mengambil banyak manfaat, antara lain; iqamatuddin, mendakwahkan dienul islam kepada semua pembaca, berbagi informasi, dan menyambung silaturahim kepada segenap pembaca khususnya sahabat-sahabat saya yang senantiasa menjadi api dalam hujan, air dalam terik, yang intinya telah menemani dan memberi kontribusi dalam hidup saya -teman-teman alumni SDN 1 Dayamurni, SMPN 1 Tumijajar, SMAN 1 Tumijajar). Demikian, semoga bermanfaat.

